Thursday, March 11, 2021

Membuka Kotak

Terjadi sebuah percakapan. Aku akan membukanya. Apa kau siap? Apa kau yakin?, balasnya. Mengapa tidak?, ia balas bertanya. Barangkali kau akan mendapati sesuatu yang tak pernah kau sangka sebelumnya, apakah kau tau bagaimana akan bereaksi? Apa kau sudah memikirkannya? Apakah kau mau aku untuk memikirkan semua kemungkinan?, jawabnya dengan pertanyaan. Ya, setidaknya itulah yang biasa kau lakukan. Aku hanya mengingatkan saja. Sudahlah, jangan banyak bicara lagi.

Namun, sekali lagi tak ada yang terjadi. Membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada sejumlah orang mungkin hanya akan membuatnya menjadi semakin kalang kabut untuk menghadapi adanya setiap pemikiran bahwa memang tak seharusnya itu terjadi. Ia sudah mencobanya beberapa kali, namun yang ia yakini bukanlah membiarkan kotak itu terbuka, melainkan membagikan sebagian isinya. Jika kau berikan sesuatu yang menjadi milikmu, maka seharusnya kau tak akan memikinya lagi karena telah menjadi milik orang lain. Tidak sama dengan yang telah ia lakukan. Ia hanya akan membiarkan orang lain untuk menyentuh dan merasakan bentuk dan beratnya namun tidak ingin membuatnya untuk memilikinya. Tidak, mereka tak perlu memilikinya, pikirnya. Bahkan ia pun tak menginginkan kotak itu ada padanya.

Apa kau akan menyimpannya sendiri?, tanyanya lagi. Ya, mungkin saja. Mengapa tak kau akui saja bahwa kau tak bisa menyimpannya? Berikan saja pada orang lain. Seluruhnya itu. Tanpa aku mengetahui apa yang ada di dalamnya? Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan?, kembali ia bertanya.

Sebenarnya hanya itu lah yang ia punya saat ini. Mungkin saja ia tak akan hidup jika tak memilikinya. Yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang dapat kau potong seperti kue bolu dan membagikannya pada beberapa orang, atau seperti bungkusan permen manis yang bisa orang lain hisap jika mulutnya mulai terasa asam. Melainkan seperti memindahkan jantung ke dalam suatu wadah lalu menguncinya rapat-rapat. Bagaimanakah manusia dapat hidup tanpa jantung yang harus tetap berdetak dan memompa darah untuk dihantarkan ke seluruh bagian tubuh dan otaknya? Seperti itulah perkiraan yang paling mungkin dapat sedikit diterima dan dicerna oleh isi kepalanya. Ia dan kotak itu setidaknya memang harus berdekatan. Jika kotak itu menjadi lebih berat dibanding biasanya, ia hanya akan menghembuskan nafas dalam-dalam dan berpikir lagi untuk membukanya agar tak terlalu merasa sesak. Ia menganggap sesuatu yang hidup di dalamnya pun juga memerlukan oksigen, setidaknya jantung membutuhkan oksigen untuk bekerja yang kemudian berproses menjadi karbon.

Ia katakan padanya sekali lagi, “Aku bisa membawanya bersamaku, mungkin tak lama lagi aku akan dapat mengetahui apa yang ada di dalamnya.”

Party

         ...


“Jadi bagaimana jika seperti ini?” Seketika orang yang sedari tadi diam beberapa waktu di sebelah kursi besi tempat ia melemaskan sendi-sendi kakinya mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan yang bahkan tak dia mengerti sama sekali. Memang belum terlalu lama sih, pikirnya. Hal itu tentu saja membuatnya menolehkan wajahnya dan menatap sepasang mata yang tak ia kenali sebelumnya. Sesuatu yang mengherankan tentu dapat saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Dengan santai dan dengan langkah yang telah sering ia latih sebelumnya, ia pun menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, obviously. “Bagaimana? Beri tau saja jika kau memang telah memikirkannya dengan baik, ya.”

Lelaki itu tak begitu saja menjawab pertanyaannya. Seperti memutar lagu lama yang sangat kau sukai dan tak mau berpindah hingga lagu yang kau dengar dengan khidmat itu telah usai, bahkan tentu tak mau momen itu cepat berakhir begitu saja. Melambat, namun tak menjemukan. Mungkin saja lontaran jawaban yang ia berikan menjadikan itu sebuah jeda untuknya agar ia berpikir sekali lagi. Mungkin juga tidak. Lelaki itu (mereka) tidak berlaku seperti baru saja bertemu dengan orang asing, melainkan bertemu dengan seseorang yang sering ia kunjungi dengan membawakannya segelas kopi serta memutar beberapa lagu klasik untuk kemudian membicarakan hal—hal yang tak dibicarakan oleh kebanyakan orang.  

“Kau tahu bagaimana roda dapat berputar kan?”, tanyanya beberapa saat kemudian.

“Ya, tentu saja. Jika saja roda bukanlah roda dan ia bersegi tiga, maka ia akan diam saja di tempat.”

Precisely, mesin roda dalam kepalaku bekerja dengan baik dan memintamu untuk segera meninggalkan “pestamu”. Aku akan menunjukkanmu sesuatu. Milikku lebih “hidup”.”

Ia tidak marah dianggap mempunyai “pesta” yang membosankan. Seperti yang kau ketahui sebelumnya, hal mengejutkan dapat saja terjadi tanpa kau sadari. Meskipun ia sendiri tak menganggap hal yang ia punya adalah sesuatu yang membosankan, karena ia berpikir hal yang membosankan pun sebenernya tak ada, selama kau dapat menarik masuk setangkup energi positif ke dalamnya, lalu menyiramkannya pada kepalamu yang mulai membeku.

Pikirnya, jarang sekali orang akan datang dan secara langsung memberikan perintah tanpa instruksi apapun. Kepalanya pun mulai berputar dan berharap dapat segera memberikan perintah yang logis pada sel tubuhnya, namun otot dan sendi kakinya tak lagi mau menunggu. Ia mulai berjalan mengikuti kemana lelaki itu membawanya tanpa tau dan menanyakan secara pasti maksud dan tujuannya. Ia mengutuki dirinya karena tak dapat berpikir dan berbuat lebih cepat dibanding dengan mengikuti langkah kaki seseorang yang mempunyai dua buah bola mata yang tak mencerminkan adanya suatu keraguan dan dengan cara berjalan yang tegas namun tidak terkesan tergesa-gesa. Segera ia tersadar bersamaan dengan langkah-langkahnya yang tak lagi terasa lemas bahwa ini adalah hal dan langkah tercepat yang dapat ia lakukan, sebelum ia akan mendapati dirinya merasakan sesuatu yang kapan saja dapat meninggalkannya di tengah persimpangan jalan dan lalu lalang serta hiruk pikuk orang-orang yang tak perlu merasa harus berpikir kemana langkah mereka akan berakhir nantinya. Kemudian ia kembali menatap ke depannya dan berharap lelaki itu mungkin akan menanyakan sesuatu dan ia pun dapat memastikan telah menggunakan pakaian yang sesuai untuk “pesta” yang akan ia datangi.

Memory (no. 1)

Dia tak akan melupakan setiap kata yang telah dia ucapkan pada seseorang. Jika pun ia melupakannya, maka mungkin orang tersebut tak berarti banyak untuknya, sadly, tentu saja itu adalah hal yang biasa, dan bukan dengan orang yang sedang ia tulis disini saat ini.

Keputusan yang dapat diambil dapat saja merupakan suatu keputusan yang baik atau bahkan sebaliknya, hitam dan putih, kau tahu itu (ataukah kau punya argumen lain?). Tak ada suatu tempat umum dimana pun yang tak berasap rokok, sudah tak mengherankan lagi, dan di tempat tersebut dia memutuskan sesuatu yang bahkan dia sendiri ingin mematahkan suatu pernyataan yang telah ia percayai sebelumnya. Ia tak dapat dengan pasti menyebutkan bahwa yang ia lakukan merupakan suatu keputusan yang baik atau sebaliknya. Kepalanya ingin dengan mudah menyebutkan kata itu dan mempercayainya, namun entah terdapat suatu informasi, berasal dari bagian kepala yang lain berkata bahwa itu bukanlah hal yang tepat untuk dipercayai, setidaknya untuk saat ini.

Hal ini; pembicaraan setiap orang dengan orang lain yang silih berganti memasuki ruang-ruang pada bagian indera pendengarnya dengan tanpa memasuki tahapan proses penyaringan informasi (dan memang tak perlu) terkadang memang sesuatu yang ia butuhkan. Namun, interpretasi orang dapat menghasilkan suatu konklusi bahwa ia tak dapat bersosialisasi. Ia dapat dengan mudah memberikan pembelaan dengan; beberapa hari yang lalu saat ia menghabiskan sekian waktu dengan beberapa orang yang cukup dekat dengannya, ia tak dapat menemukan suatu hal penting sehingga membuatnya ingin membicarakan sesuatu atau setidaknya tak membuatnya ingin cepat beralih dari tempat itu. Dan memang benar, kekhawatirannya pun mulai bertambah, mengenai bagaimana cara dia untuk berhenti menilai seseorang berdasar dari apa yang mereka bicarakan dan cara mereka berbicara. Mereka membicarakan suatu hal –yang menurutnya tak penting dengan menggebu-gebu seakan mereka membicarakan sidang sengketa hasil pilpres. Atau, entahlah ia tak lagi mengingat obrolan malam itu. Iykwim.

            Di tengah kepulan asap sigaret, suatu pernyataan, yaitu : “Happiness is for animal; meaning is for humans”, kembali mengganggunya. It means, we don’t look for happiness, but a meaning. Dan kemudian mempertanyakan banyak hal, seperti bagaimana bisa dapat mengikuti dan mempercayainya jika kau tak dapat menemukan celah untuk mencuri cara agar tetap bertahan pada sekumpulan homo hapiens cerdas yang akan menginjakmu jika kau tak mempunyai kuasa apapun terhadap sesuatu. Atau mungkin saja memang begitulah artinya. (seek for answer?)

            Berakhir dengan hubungan pada paragraf utama mengenai sesuatu yang pasti tak akan ia lupakan, memang benar, menulis apa yang ada di dalam kepala jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis sebuah proposal, meskipun mengungkapkannya tak semudah menuliskannya.__

 

Wednesday, March 6, 2019

Fancy restaurant

I will tell you a secret. Malam ini tak ada hal mengejutkan, tentu saja. Mungkin aku telah terlalu terbiasa terhadap kondisi-kondisi yang serba sama setiap harinya. Kau tau rasa dimana kau telah berkali-kali makan di sebuah warung yang sama setiap harinya. Bukannya bosan, tapi kau sudah hafal rasanya. Tak ada hal yang berbeda. Namun berbeda dengan rasa bosan. Lalu dimana letak rahasianya? Rasa takut yang kupunya akan rasa terbiasa itu mungkin akan jadi tak bagus. Apa kau bisa memahaminya? 

Mungkin ini adalah suatu pertanda. Bahwa aku harus mengganti sebuah sudut pandang akan sebuah titik yang akan kuutamakan pada pikiran dan hati. Bahwa aku harus mulai mementingkan hal lain yang telah kukesampingkan karena memenuhi sebuah keingintahuan akan sesuatu. Apa kau pernah merasakan bahwa apapun yang kau lakukan adalah hal yang menurutmu penting? 

Di malam yang belum terlalu malam ini aku ingin kau mengetahui bahwa yang kau kira menyenangkan tak selalu terasa menyenangkan. Seperti jika kau mengetahui suatu hal mengenai apa yang dipikirkan oleh seseorang namun hal itu bukannya memberikan kebaikan untukmu, malah menyulitkanmu. Seperti jika kau menginginkan sesuatu dan kau mendapatkannya karena kau tau caranya namun kau tak merasa senang karena tak berarti orang lain akan merasakan hal yang sama sepertimu. Seperti jika kau telah mampu membuat hal yang kau kira baik kepada orang lain namun kau malah merasa bahwa kau tak cukup baik. 

Beberapa hal di atas pun sepertinya telah menjadi sebuah rasa yang biasa. Tidakkah kau kira itu bukanlah suatu rasa yang menyenangkan untuk menjadi biasa merasakan hal yang tak terasa menyenangkan? Dan kau bukannya merasa bosan, namun kau perlu untuk mencoba rasa yang baru. Aku tak merasa bosan namun aku telah menjadi orang yang membosankan. Orang yang membosankan adalah orang yang tak terlalu mengetahui banyak hal. Kurasa aku harus mengetahui lebih banyak hal lain. Kurasa aku akan pergi ke warung yang berbeda. Kuharap hal itu semudah kau pergi ke warung baru dan memesan makanan yang berbeda setiap harinya sehingga kau mempunyai pengecap yang kaya rasa. Namun setiap warung pada kenyataannya ternyata menggunakan beberapa bumbu yang tak berbeda. 

Disaat seperti inilah kau merasa untuk mengganti pilihanmu. Go to the fancy restaurant, for example.

Tuesday, March 5, 2019

The faith and the game

This could be a serious problem. Tapi kau tetap saja sama. Bersikap masa bodoh terhadap masalah yang mungkin akan terjadi seakan semuanya baik-baik saja. Iya, memang kau menginginkan agar semuanya berjalan baik-baik saja. Tapi kau tak pernah sadar dan mau belajar. Kau tumpuk semuanya jadi satu berharap akan ada seseorang yang datang dan membantumu untuk menyelesaikannya untukmu. Meskipun kau pun juga tau kalau itu hanyalah hayalanmu.

Dengan mata sayup yang berharap agar dibangunkan dengan siraman air dingin namun terlalu malas untuk mengais potongan keinginan kuat yang berserakan di seluruh sudut ruangan, kau sebenarnya tau kau tak lagi butuh bermimpi. Kau butuh berlari. Bukan lari untuk mengejar laki-laki yang kau idamkan, tentu saja. Mereka lebih kurang sama, akan mencintai segala bentuk empati, mereka tak akan kemana-mana. Namun kau merasa hal itu terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Permainan apa lagi yang akan kau mainkan?

Lalu apa yang kau cari? Mimpi atau laki-laki?

Bicara soal lelaki, kau merasa kau tak akan dapat berhenti untuk terus memegang konsol. Permainan akan terus berlanjut jika kau tetap percaya pada intuisimu. Dulu kau memuja laki-laki hingga kau tak bisa melepaskannya. Keinginan untuk dapat terhubung tak hanya dengan ucapan namun juga dengan jiwa yang dalam akan membawamu jauh dari setiap mimpi yang kau bangun dalam otakmu. Waktu akan merasa kau hianati karena kau terlalu pilih kasih pada dirimu sendiri. Waktu telah memberimu pilihan. Namun sayangnya terlalu berat untuk bangun dari hayalan akan seseorang yang memberimu waktu seakan kau dapat menebus semuanya. Apparently, you can not choose your own way, willingly.

Jika saja kau dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa itu bukanlah suatu hayalan, namun suatu setapak jalan yang memang dibuat untukmu. Pun tentu saja jika ada jalan beraspal kau tak perlu harus melewatinya. Bukankah seharusnya terlampau banyak jalan yang ada?

Jika saja kau dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa itu hanyalah hayalan belaka, kau tak butuh mereka yang kau cari akan dapat memberikan apa yang kau butuhkan, karena yang kau butuhkan telah ada dalam dirimu sendiri. Lalu keyakinan mana yang akan kau ambil?

You always open your heart though, so everybody can come into you. Everybody who capable enough to do so but still can not go further. It’s the game.

Wednesday, January 16, 2019

Ilusi

Malam kembali menyapa. Sama seperti sebelumnya. Pun tak ada yang dapat lagi mengganggu pikirannya lebih dari ia yang terus mengorek isi kepalanya mencari sesuatu yang tak pernah ada. “Benarkah ia telah pergi?”, tanyanya. Namun ia telah dapat menjawab pertanyaannya sendiri seolah jawaban itu telah ada dalam kepalanya tanpa ia sadari.

Ilusi. Adalah jawabannya.

Ia menyadari ini adalah hal baik yang dapat ia rasakan dalam beberapa waktu terakhir. Bahwa ia tak harus merasa tak yakin dan ketakutan akan sesuatu. Kau dapat memberikan apa saja yang kau punya karena apa yang kau punya itu tak akan kau bawa sampai kau mati kelak.

Thursday, August 24, 2017

sekelompok pertanyaan

bagaimana mungkin aku bisa merasakan perasaan yang seperti ini? apakah normal jika kau membiarkan seseorang bebas melakukan apapun terhadapmu meskipun kau tak menyukainya, bahkan itu merugikanmu, atau menyakitimu? bagaimana mungkin kau bisa menyebutnya suatu kenormalan? pada siapakah aku dapat melontarkan semua pertanyaan tersebut? selain pada diriku sendiri? lalu bagaimana aku harus menjawab semua pertanyaan itu? dan mengapa aku harus bersusah-susah untuk mempertanyakannya? apakah setiap orang pernah mempertanyakan pertanyaan yang sama? dan apakah mereka menemukan jawabannya?

bahkan terkadang aku tak dapat mendefinisikan sebuah perasaan yang sedang kurasakan. apakah itu suatu kenormalan juga? entah sampai kapan aku akan terus menuliskan pertanyaan-pertanyaan ini. aku menunggu hingga suatu saat aku akan menuliskan sebuah jawaban ataupun semua jawaban akan semua pertanyaan-pertanyaan itu. olehku sendiri, bukan oleh orang lain. namun aku tak yakin. aku tak yakin dapat memahami semua ini. apakah ini semua diciptakan untuk dipahami sepenuhnya? atau hanya sebagian saja? lalu bagaimana kau dapat merasa yakin akan sesuatu? seberapa besar rasa yakinmu terhadap sesuatu? bukan terhadap hal yang telah ada pada textbook. namun hal yang ada dalam kepalamu. apakah kau benar-benar punya waktu untuk memikirkannya? apakah waktu yang kau miliki sebegitu banyaknya hingga kau dapat terus memikirkannya hingga menemukan jawabannya? atau kau hanya membiarkan semuanya terjebak dan terkurung begitu saja hingga pada saatnya tiba? 

aku mengingatnya. jika kau dapat menjawab pertanyaanmu maka kau akan melupakan semua pertanyaan itu. namun apa yang terjadi setelahnya? kau mendapat sejumlah pertanyaan baru. benarkah? benarkan ini semua tak kan pernah ada habisnya? sampai kapan? sampai kau tak dapat berpikir lagi? selama itukah? apakah orang dewasa selalu menjadi membosankan? karena memiliki begitu banyak pertanyaan dalam kepalanya. apakah kau telah dewasa? apakah telah cukup dewasa untuk memikirkan semuanya? apakah dewasa itu? 

apakah kau sendiri? apakah kau merasa sendiri? jawabannya adalah kau tak sendiri maka tak perlu merasa sendiri. mengapa tak perlu merasa sendiri sedangkan kau jelas merasakan kesendirian? karena itu hanyalah mindset dan kau sendiri yang memilih untuk menyendiri. mengapa aku harus menyendiri padahal sebenarnya aku tak ingin? karena kau tak punya cara lain untuk menyelamatkan dirimu dari hal yang tak kau sukai dan tak punya cara untuk mendapatkan hal yang kau mau. mengapa aku tak bisa mendapatkan hal yang aku mau? karena kau tak memerlukannya. tapi aku ingin? maka kejarlah. bagaimana? pikirkan lalu lakukanlah....

Monday, November 7, 2016

Pikiran Hari Senin

Masih dengan rasa sakit yang sama pada kepala, aku mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah dan sedang terjadi. Mengingatnya pun juga membuat perut nyeri. Aku terus berpikir bagaimana aku bisa mengalaminya. Aku bertanya-tanya dan terus bertanya tanpa jawab. Aku semakin terbiasa berbincang dengan diri sendiri dan berkelana jauh ke dalam pusaran pikiran yang hanya berputar-putar dan membuat pusing kepala. Kau akan mengerti betapa menyenangkannya berteman dengan dirimu sendiri. Tak perlu ada orang lain yang harus berusaha untuk mengerti dan kau pun tak perlu menjelaskan apapun. Coba bayangkan betapa mudahnya hidup tanpa perlu menjelaskan apapun.

Disaat memikirkannya pun sepertinya aku ikut berputar-putar mengikuti arah kepalaku berputar. Memikirkan bagaimana bisa aku tersadar bahwa aku tak bisa mengikuti segala peraturan yang telah diberikan, bukan berarti aku melanggar semuanya, namun itu seperti tali yang dililit-lilitkan dan membuat sesak. Bahwa menerima pernyataan kau harus menuruti segala aturan yang telah diberikan, kemudian sontak muncullah pertanyaan, bagaimana jika tidak? Apakah aku akan menjadi seseorang yang kurang ajar? Lalu timbul pertanyaan lagi, bahwa apa susahnya hanya menurut dan mengikutinya saja? Namun, bagaimana jika tidak? Dan tidak ada jawab.. Karena sebenarnya mengapa kau tak bisa hanya menurut saja? Bagaimanapun tak semudah itu. 

Pernahkah kau merasakan bahwa apapun yang kau rasakan terasa amat susah untuk dijelaskan? Kemudian yang bisa kau lakukan hanya diam karena berpikir bahwa usaha apapun yang kau lakukan untuk membuat orang lain mengerti merupakan sebuah ketidakbergunaan. Namun tak hanya berhenti disitu saja, kau terus memikirkannya seperti itu adalah sebuah ketidaknormalan atau sebuah kesalahan yang harus kau temukan dimana letak kesalahannya atau yang menjadikan hal itu bukan sesuatu yang benar. Kau menganggapnya sebuah penyakit yang mengganggu dan kau perlu untuk menyingkirkannya, namun sialnya ia terus menempel seperti benalu. Dan kau adalah inangnya. Lalu kau terus bersamanya kemanapun kau pergi. 

Saturday, June 20, 2015

No title 2

Kali ini aku tak perlu bersusah payah untuk bangun dari tempat tidur dengan perut yang sakit dan menjejakkan kaki ke lantai yang dingin. Aku sudah memutuskan untuk berdiam diri disini dan menunggu. Tak jelas apa yang kutunggu. Seperti anak ayam yang menunggu kedatangan induknya. Seperti anak kucing yang menunggu ibunya membawakan makanan lalu menyusu. Bukan menunggu yang seperti itu. Lebih seperti menunggu hujan badai yang turun di siang bolong. Presentasenya 0,001%. Presentase yang dibuat ngawur tentu saja karena angka tak lebih dari digit 1 hingga 0 yang dipadu-padankan dengan beberapa jumlah digit yang lain sehingga menghasilkan nilai yang (sepertinya) akurat sebagai fakta dan bukti riil sehingga terkesan meyakinkan, meskipun kevalidannya tak mungkin 100% karena banyak probabilitas yang bisa mempengaruhi dan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan. Begitu banyak orang bersaing mendapatkan nilai yang terdiri dari sejumlah angka-bahkan meyakini- dan aku membencinya. Manipulasi. Aku yakin kau bahkan sangat memahaminya.

Thursday, June 18, 2015

Infinite

Ia teringat bahwa takkan pernah ada akhir yang benar-benar akan dapat mengakhiri. Semua berputar, mengorbit, berotasi, berevolusi, detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, tahun demi tahun, abad demi abad. Salah kalau kau mengatakan sedang tidak melakukan apapun kalau ditanya sedang apa, karena kau menginjakkan kaki di permukaan bumi, hidup di bawah lapisan ozon bumi, jadi kau sedang berotasi mengikuti rotasi bumi, dan mengorbit pada matahari dengan kecepatan yang tak dapat kau bayangkan sehingga kau tak kan mungkin terpental ke antariksa. Pun juga tak berujung. Dan tak berpangkal. Infinity. Percaya tidak? Ah... Who the hell cares? 

Ia terlalu lelah untuk bangun dari tempat tidur bahkan untuk memikirkan kecepatan orbit bumi terhadap matahari. Bukankah kalau kau diam maka kau memang diam, dan kau tidur maka kau memang tidur? Mengapa harus berpacu pada bumi tempat kau terjatuh dan bangun lagi saat dulu mulai berlatih naik sepeda roda dua? 

Lalu bagaimana jika aku berpacu padamu? Apakah artinya aku akan selalu ada di sekitarmu? Mencium bau badanmu meskipun kau tak berada di sampingku? Bagaimana kalau aku tak lagi mau berputar bersama bumi? Bagaimana kalau aku hanya mau hidup bersamamu? Sampai akhir? Oh! Bukankah takkan pernah ada akhir? Maka bagaimana kalau aku mau hidup bersamamu selamanya? Tak berujung dan tak berpangkal. 

Tuesday, November 18, 2014

Hari Senin

Masih hari Senin. Bukan, namun sudah hari Senin. Entah Senin keberapa dalam tahun ini. Siapa pula yang sanggup menghitungnya di hidup yang serba ruwet ini? Peduli dengan hari saja tidak, seakan hari tidak akan pernah ada habisnya. Senin sampai Minggu berulang terus tiada akhir. Oh! Kata siapa? Salah besar. Barangkali besok kau mati. Maka berakhirlah. Sesederhana itu.

Sudah hari Senin yang entah Senin keberapa dalam tahun ini, selama 21 tahun plus beberapa bulan yang berisi 30 atau 31 hari lamanya, kau habiskan tetap dengan masalah yang hampir tak pernah berubah. Barangkali sudah sedikit termodifikasi, namun tetap tak berada jauh dari titik yang sama, tak ada perubahan, konstan, rata, dan pendek. Suatu saat kau berada di bawah sana dengan setumpuk keruwetan yang dengan sedemikian rupa kau simpul sesederhana mungkin dan setelah itu begitu saja terlupakan. Seakan tak ingin terjebak dengan keruwetan yang sama, maka kau mulai menyimpul hal baru dalam memori yang lebih terlihat seperti bayangan dan tak pernah akan menjadi nyata, kau yang sendiri tau hal itu. Aku dan kau sama-sama tak pernah mempelajari ilmu tentang sifat manusia, entah mengapa kau sering menanyakannya diam-diam suatu waktu. Aku berasumsi bahwa sebenarnya kau hanya mempertanyakan tentang dirimu sendiri. Namun aku juga sedikit ragu karena kau bukan seperti orang-orang di luar sana. Entah kau seperti apa. Aku sendiri juga tak pernah merasa yakin. Satu hal yang aku yakini adalah kau pasti juga merasakan hal yang sama, seperti yang tadi aku ungkapkan.

Menurutku kau adalah makhluk paling konvensional yang pernah aku tau. Tak pernah ada perubahan, maju ke depan namun terbelakang di kelompok, juga penakut yang rasa takutnya sama besar dengan keberanian yang kau miliki. Barangkali kau memilih kelompok yang salah, apapun bisa saja terjadi kan. Laiknya nasi yang telah menjadi bubur, memang usaha terbesar yang dapat dilakukan satu-satunya hanya fokus pada satu titik. Namun fokus adalah salah satu kelemahanmu. Lalu kau akan menanyakan, “Lalu selanjutnya apa?”

Wednesday, July 9, 2014

Kisah Malam Hari

Selamat malam.
Namaku Bulan. Aku berteman dengan Bintang. Namun kau pasti cukup tau jika aku dan Bintang sangat berbeda. Suatu waktu aku sangat mencintai Bintang hingga tak ingin lepas darinya barang semenit saja, bahkan sedetik. Baru setelah itu aku menyadari bahwa ia bermuka dua dan seorang pembohong, kau tau. Yang dia katakan padaku hanyalah omong kosong belaka. Tak kuasa aku ingin sekali menendangnya pergi jauh dari angkasa dan tak ingin melihatnya lagi, sungguh. Ia sungguh gila. Tak berperasaan. Aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan tak ingin ia pergi, awalnya. Namun sekarang aku telah berubah pikiran. Anjing dia! Jangan pernah percaya padanya.

Selamat malam.
Masih dengan Bulan disini. Bintang sedang menghilang. Tak tau kemana. Mungkin sedang berada di sebuah pub malam atau sedang pesta narkoba entah di galaksi tak dikenal jauh disana. Peduli saja aku tidak! Justru bagus karena aku tak perlu menelan kata-katanya yang sepertinya manis di luar namun kecut. Seperti strawberry. Mungkin ia kira aku sedang menunggunya. Memang iya, namun untuk mengatakan bahwa aku tak ingin mengenalnya lagi, sekalipun! Aku ingin mengatakan bahwa ia seperti anjing tak punya otak yang hanya bisa menggonggong saja di tengah malam. Bodoh! Lihat saja. Ya walaupun tetap saja anjing mempunyai otak, namun juga tetaplah binatang hanyalah seekor binatang, tak punya akal dan hanya mempunyai nafsu. Sama sepertinya. Aku pikir namanya seharusnya binatang! Bukannya bintang! Ah! Sudahlah nanti aku akan menceritakan padamu jika ia kembali menyapa. Semoga saja tidak. Tapi aku tak tau, hanya lihat saja. Aku cukup penasaran apakah ia masih menganggapku seorang teman atau bukan. Asal kau tau dulu ia berkata bahwa ia mencintaiku. Sekarang aku hanya menertawakannya saja. Anggap saja itu hanyalah lagu selamat tidur agar kau tak mimpi buruk. Aku begitu peduli padanya, si binatang itu, sesungguhnya. Bintang. Namun itu hanyalah salah satu kebodohan di antara kebodohan lainnya. Baiklah, cukup sampai disini dulu. Aku punya tugas di malam hari yang lebih penting dibanding menceritakan kisah sedih ini padamu.

Sampai jumpa.

Saturday, October 19, 2013

Untitled

Tiba-tiba aku teringat dengan memori kemarin. Kemarin saat masih berusia hanya satu angka. Tepatnya angka 9. Saat itu entah apa yang terjadi namun mungkin itulah awal dari segalanya. Aku tak pernah mau memikirkan segala hal. Aku hanya memikirkan sepotong-potong dan menyisakan potongan besar lainnya yang sama sekali tak pernah aku pahami. Sekarang pun juga begitu. Aku masih tak mau memikirkan apa yang akan terjadi besok. Aku ingin setiap harinya adalah kejutan.

Jadi saat itu, aku dan beberapa sahabat yang juga berusia 9 tahun, ada juga yang masih 8 tahun merencanakan suatu hal secara diam-diam. Aku tak yakin dengan rencana itu sebenarnya, namun aku ikut saja. Pada hari yang telah direncanakan secara diam-diam pula kami membuka tas sasaran masing-masing dan memasukkan sekotak coklat ke dalamnya. Mungkin ini sama saja seperti diam-diam kamu memasukkan perangkap dan menjebak beberapa temanmu agar terkena hukuman. Tapi percayalah bukan itu tujuan kami.

......