Thursday, March 11, 2021

Membuka Kotak

Terjadi sebuah percakapan. Aku akan membukanya. Apa kau siap? Apa kau yakin?, balasnya. Mengapa tidak?, ia balas bertanya. Barangkali kau akan mendapati sesuatu yang tak pernah kau sangka sebelumnya, apakah kau tau bagaimana akan bereaksi? Apa kau sudah memikirkannya? Apakah kau mau aku untuk memikirkan semua kemungkinan?, jawabnya dengan pertanyaan. Ya, setidaknya itulah yang biasa kau lakukan. Aku hanya mengingatkan saja. Sudahlah, jangan banyak bicara lagi.

Namun, sekali lagi tak ada yang terjadi. Membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada sejumlah orang mungkin hanya akan membuatnya menjadi semakin kalang kabut untuk menghadapi adanya setiap pemikiran bahwa memang tak seharusnya itu terjadi. Ia sudah mencobanya beberapa kali, namun yang ia yakini bukanlah membiarkan kotak itu terbuka, melainkan membagikan sebagian isinya. Jika kau berikan sesuatu yang menjadi milikmu, maka seharusnya kau tak akan memikinya lagi karena telah menjadi milik orang lain. Tidak sama dengan yang telah ia lakukan. Ia hanya akan membiarkan orang lain untuk menyentuh dan merasakan bentuk dan beratnya namun tidak ingin membuatnya untuk memilikinya. Tidak, mereka tak perlu memilikinya, pikirnya. Bahkan ia pun tak menginginkan kotak itu ada padanya.

Apa kau akan menyimpannya sendiri?, tanyanya lagi. Ya, mungkin saja. Mengapa tak kau akui saja bahwa kau tak bisa menyimpannya? Berikan saja pada orang lain. Seluruhnya itu. Tanpa aku mengetahui apa yang ada di dalamnya? Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan?, kembali ia bertanya.

Sebenarnya hanya itu lah yang ia punya saat ini. Mungkin saja ia tak akan hidup jika tak memilikinya. Yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang dapat kau potong seperti kue bolu dan membagikannya pada beberapa orang, atau seperti bungkusan permen manis yang bisa orang lain hisap jika mulutnya mulai terasa asam. Melainkan seperti memindahkan jantung ke dalam suatu wadah lalu menguncinya rapat-rapat. Bagaimanakah manusia dapat hidup tanpa jantung yang harus tetap berdetak dan memompa darah untuk dihantarkan ke seluruh bagian tubuh dan otaknya? Seperti itulah perkiraan yang paling mungkin dapat sedikit diterima dan dicerna oleh isi kepalanya. Ia dan kotak itu setidaknya memang harus berdekatan. Jika kotak itu menjadi lebih berat dibanding biasanya, ia hanya akan menghembuskan nafas dalam-dalam dan berpikir lagi untuk membukanya agar tak terlalu merasa sesak. Ia menganggap sesuatu yang hidup di dalamnya pun juga memerlukan oksigen, setidaknya jantung membutuhkan oksigen untuk bekerja yang kemudian berproses menjadi karbon.

Ia katakan padanya sekali lagi, “Aku bisa membawanya bersamaku, mungkin tak lama lagi aku akan dapat mengetahui apa yang ada di dalamnya.”

No comments:

Post a Comment