Disaat memikirkannya pun sepertinya aku ikut berputar-putar mengikuti arah kepalaku berputar. Memikirkan bagaimana bisa aku tersadar bahwa aku tak bisa mengikuti segala peraturan yang telah diberikan, bukan berarti aku melanggar semuanya, namun itu seperti tali yang dililit-lilitkan dan membuat sesak. Bahwa menerima pernyataan kau harus menuruti segala aturan yang telah diberikan, kemudian sontak muncullah pertanyaan, bagaimana jika tidak? Apakah aku akan menjadi seseorang yang kurang ajar? Lalu timbul pertanyaan lagi, bahwa apa susahnya hanya menurut dan mengikutinya saja? Namun, bagaimana jika tidak? Dan tidak ada jawab.. Karena sebenarnya mengapa kau tak bisa hanya menurut saja? Bagaimanapun tak semudah itu.
Pernahkah kau merasakan bahwa apapun yang kau rasakan terasa amat susah untuk dijelaskan? Kemudian yang bisa kau lakukan hanya diam karena berpikir bahwa usaha apapun yang kau lakukan untuk membuat orang lain mengerti merupakan sebuah ketidakbergunaan. Namun tak hanya berhenti disitu saja, kau terus memikirkannya seperti itu adalah sebuah ketidaknormalan atau sebuah kesalahan yang harus kau temukan dimana letak kesalahannya atau yang menjadikan hal itu bukan sesuatu yang benar. Kau menganggapnya sebuah penyakit yang mengganggu dan kau perlu untuk menyingkirkannya, namun sialnya ia terus menempel seperti benalu. Dan kau adalah inangnya. Lalu kau terus bersamanya kemanapun kau pergi.
No comments:
Post a Comment