...
“Jadi bagaimana
jika seperti ini?” Seketika orang yang sedari tadi diam beberapa waktu di
sebelah kursi besi tempat ia melemaskan sendi-sendi kakinya mengagetkannya
dengan sebuah pertanyaan yang bahkan tak dia mengerti sama sekali. Memang belum
terlalu lama sih, pikirnya. Hal itu tentu saja membuatnya menolehkan wajahnya
dan menatap sepasang mata yang tak ia kenali sebelumnya. Sesuatu yang
mengherankan tentu dapat saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Dengan santai dan
dengan langkah yang telah sering ia latih sebelumnya, ia pun menjawabnya dengan
sebuah pertanyaan, obviously.
“Bagaimana? Beri tau saja jika kau memang telah memikirkannya dengan baik, ya.”
Lelaki itu tak
begitu saja menjawab pertanyaannya. Seperti memutar lagu lama yang sangat kau
sukai dan tak mau berpindah hingga lagu yang kau dengar dengan khidmat itu
telah usai, bahkan tentu tak mau momen itu cepat berakhir begitu saja.
Melambat, namun tak menjemukan. Mungkin saja lontaran jawaban yang ia berikan
menjadikan itu sebuah jeda untuknya agar ia berpikir sekali lagi. Mungkin juga
tidak. Lelaki itu (mereka) tidak berlaku seperti baru saja bertemu dengan orang
asing, melainkan bertemu dengan seseorang yang sering ia kunjungi dengan
membawakannya segelas kopi serta memutar beberapa lagu klasik untuk kemudian
membicarakan hal—hal yang tak dibicarakan oleh kebanyakan orang.
“Kau tahu
bagaimana roda dapat berputar kan?”, tanyanya beberapa saat kemudian.
“Ya, tentu saja.
Jika saja roda bukanlah roda dan ia bersegi tiga, maka ia akan diam saja di
tempat.”
“Precisely, mesin roda dalam kepalaku
bekerja dengan baik dan memintamu untuk segera meninggalkan “pestamu”. Aku akan
menunjukkanmu sesuatu. Milikku lebih “hidup”.”
Ia tidak marah
dianggap mempunyai “pesta” yang membosankan. Seperti yang kau ketahui
sebelumnya, hal mengejutkan dapat saja terjadi tanpa kau sadari. Meskipun ia
sendiri tak menganggap hal yang ia punya adalah sesuatu yang membosankan,
karena ia berpikir hal yang membosankan pun sebenernya tak ada, selama kau
dapat menarik masuk setangkup energi positif ke dalamnya, lalu menyiramkannya
pada kepalamu yang mulai membeku.
Pikirnya, jarang
sekali orang akan datang dan secara langsung memberikan perintah tanpa
instruksi apapun. Kepalanya pun mulai berputar dan berharap dapat segera
memberikan perintah yang logis pada sel tubuhnya, namun otot dan sendi kakinya
tak lagi mau menunggu. Ia mulai berjalan mengikuti kemana lelaki itu membawanya
tanpa tau dan menanyakan secara pasti maksud dan tujuannya. Ia mengutuki
dirinya karena tak dapat berpikir dan berbuat lebih cepat dibanding dengan
mengikuti langkah kaki seseorang yang mempunyai dua buah bola mata yang tak
mencerminkan adanya suatu keraguan dan dengan cara berjalan yang tegas namun
tidak terkesan tergesa-gesa. Segera ia tersadar bersamaan dengan
langkah-langkahnya yang tak lagi terasa lemas bahwa ini adalah hal dan langkah
tercepat yang dapat ia lakukan, sebelum ia akan mendapati dirinya merasakan
sesuatu yang kapan saja dapat meninggalkannya di tengah persimpangan jalan dan
lalu lalang serta hiruk pikuk orang-orang yang tak perlu merasa harus berpikir
kemana langkah mereka akan berakhir nantinya. Kemudian ia kembali menatap ke
depannya dan berharap lelaki itu mungkin akan menanyakan sesuatu dan ia pun
dapat memastikan telah menggunakan pakaian yang sesuai untuk “pesta” yang akan
ia datangi.
No comments:
Post a Comment