Thursday, March 11, 2021

Party

         ...


“Jadi bagaimana jika seperti ini?” Seketika orang yang sedari tadi diam beberapa waktu di sebelah kursi besi tempat ia melemaskan sendi-sendi kakinya mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan yang bahkan tak dia mengerti sama sekali. Memang belum terlalu lama sih, pikirnya. Hal itu tentu saja membuatnya menolehkan wajahnya dan menatap sepasang mata yang tak ia kenali sebelumnya. Sesuatu yang mengherankan tentu dapat saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Dengan santai dan dengan langkah yang telah sering ia latih sebelumnya, ia pun menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, obviously. “Bagaimana? Beri tau saja jika kau memang telah memikirkannya dengan baik, ya.”

Lelaki itu tak begitu saja menjawab pertanyaannya. Seperti memutar lagu lama yang sangat kau sukai dan tak mau berpindah hingga lagu yang kau dengar dengan khidmat itu telah usai, bahkan tentu tak mau momen itu cepat berakhir begitu saja. Melambat, namun tak menjemukan. Mungkin saja lontaran jawaban yang ia berikan menjadikan itu sebuah jeda untuknya agar ia berpikir sekali lagi. Mungkin juga tidak. Lelaki itu (mereka) tidak berlaku seperti baru saja bertemu dengan orang asing, melainkan bertemu dengan seseorang yang sering ia kunjungi dengan membawakannya segelas kopi serta memutar beberapa lagu klasik untuk kemudian membicarakan hal—hal yang tak dibicarakan oleh kebanyakan orang.  

“Kau tahu bagaimana roda dapat berputar kan?”, tanyanya beberapa saat kemudian.

“Ya, tentu saja. Jika saja roda bukanlah roda dan ia bersegi tiga, maka ia akan diam saja di tempat.”

Precisely, mesin roda dalam kepalaku bekerja dengan baik dan memintamu untuk segera meninggalkan “pestamu”. Aku akan menunjukkanmu sesuatu. Milikku lebih “hidup”.”

Ia tidak marah dianggap mempunyai “pesta” yang membosankan. Seperti yang kau ketahui sebelumnya, hal mengejutkan dapat saja terjadi tanpa kau sadari. Meskipun ia sendiri tak menganggap hal yang ia punya adalah sesuatu yang membosankan, karena ia berpikir hal yang membosankan pun sebenernya tak ada, selama kau dapat menarik masuk setangkup energi positif ke dalamnya, lalu menyiramkannya pada kepalamu yang mulai membeku.

Pikirnya, jarang sekali orang akan datang dan secara langsung memberikan perintah tanpa instruksi apapun. Kepalanya pun mulai berputar dan berharap dapat segera memberikan perintah yang logis pada sel tubuhnya, namun otot dan sendi kakinya tak lagi mau menunggu. Ia mulai berjalan mengikuti kemana lelaki itu membawanya tanpa tau dan menanyakan secara pasti maksud dan tujuannya. Ia mengutuki dirinya karena tak dapat berpikir dan berbuat lebih cepat dibanding dengan mengikuti langkah kaki seseorang yang mempunyai dua buah bola mata yang tak mencerminkan adanya suatu keraguan dan dengan cara berjalan yang tegas namun tidak terkesan tergesa-gesa. Segera ia tersadar bersamaan dengan langkah-langkahnya yang tak lagi terasa lemas bahwa ini adalah hal dan langkah tercepat yang dapat ia lakukan, sebelum ia akan mendapati dirinya merasakan sesuatu yang kapan saja dapat meninggalkannya di tengah persimpangan jalan dan lalu lalang serta hiruk pikuk orang-orang yang tak perlu merasa harus berpikir kemana langkah mereka akan berakhir nantinya. Kemudian ia kembali menatap ke depannya dan berharap lelaki itu mungkin akan menanyakan sesuatu dan ia pun dapat memastikan telah menggunakan pakaian yang sesuai untuk “pesta” yang akan ia datangi.

No comments:

Post a Comment