Tuesday, March 5, 2019

The faith and the game

This could be a serious problem. Tapi kau tetap saja sama. Bersikap masa bodoh terhadap masalah yang mungkin akan terjadi seakan semuanya baik-baik saja. Iya, memang kau menginginkan agar semuanya berjalan baik-baik saja. Tapi kau tak pernah sadar dan mau belajar. Kau tumpuk semuanya jadi satu berharap akan ada seseorang yang datang dan membantumu untuk menyelesaikannya untukmu. Meskipun kau pun juga tau kalau itu hanyalah hayalanmu.

Dengan mata sayup yang berharap agar dibangunkan dengan siraman air dingin namun terlalu malas untuk mengais potongan keinginan kuat yang berserakan di seluruh sudut ruangan, kau sebenarnya tau kau tak lagi butuh bermimpi. Kau butuh berlari. Bukan lari untuk mengejar laki-laki yang kau idamkan, tentu saja. Mereka lebih kurang sama, akan mencintai segala bentuk empati, mereka tak akan kemana-mana. Namun kau merasa hal itu terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Permainan apa lagi yang akan kau mainkan?

Lalu apa yang kau cari? Mimpi atau laki-laki?

Bicara soal lelaki, kau merasa kau tak akan dapat berhenti untuk terus memegang konsol. Permainan akan terus berlanjut jika kau tetap percaya pada intuisimu. Dulu kau memuja laki-laki hingga kau tak bisa melepaskannya. Keinginan untuk dapat terhubung tak hanya dengan ucapan namun juga dengan jiwa yang dalam akan membawamu jauh dari setiap mimpi yang kau bangun dalam otakmu. Waktu akan merasa kau hianati karena kau terlalu pilih kasih pada dirimu sendiri. Waktu telah memberimu pilihan. Namun sayangnya terlalu berat untuk bangun dari hayalan akan seseorang yang memberimu waktu seakan kau dapat menebus semuanya. Apparently, you can not choose your own way, willingly.

Jika saja kau dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa itu bukanlah suatu hayalan, namun suatu setapak jalan yang memang dibuat untukmu. Pun tentu saja jika ada jalan beraspal kau tak perlu harus melewatinya. Bukankah seharusnya terlampau banyak jalan yang ada?

Jika saja kau dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa itu hanyalah hayalan belaka, kau tak butuh mereka yang kau cari akan dapat memberikan apa yang kau butuhkan, karena yang kau butuhkan telah ada dalam dirimu sendiri. Lalu keyakinan mana yang akan kau ambil?

You always open your heart though, so everybody can come into you. Everybody who capable enough to do so but still can not go further. It’s the game.

No comments:

Post a Comment