Selamat malam.
Namaku Bulan. Aku berteman dengan Bintang. Namun kau pasti cukup tau jika aku dan Bintang sangat berbeda. Suatu waktu aku sangat mencintai Bintang hingga tak ingin lepas darinya barang semenit saja, bahkan sedetik. Baru setelah itu aku menyadari bahwa ia bermuka dua dan seorang pembohong, kau tau. Yang dia katakan padaku hanyalah omong kosong belaka. Tak kuasa aku ingin sekali menendangnya pergi jauh dari angkasa dan tak ingin melihatnya lagi, sungguh. Ia sungguh gila. Tak berperasaan. Aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan tak ingin ia pergi, awalnya. Namun sekarang aku telah berubah pikiran. Anjing dia! Jangan pernah percaya padanya.
Selamat malam.
Masih dengan Bulan disini. Bintang sedang menghilang. Tak tau kemana. Mungkin sedang berada di sebuah pub malam atau sedang pesta narkoba entah di galaksi tak dikenal jauh disana. Peduli saja aku tidak! Justru bagus karena aku tak perlu menelan kata-katanya yang sepertinya manis di luar namun kecut. Seperti strawberry. Mungkin ia kira aku sedang menunggunya. Memang iya, namun untuk mengatakan bahwa aku tak ingin mengenalnya lagi, sekalipun! Aku ingin mengatakan bahwa ia seperti anjing tak punya otak yang hanya bisa menggonggong saja di tengah malam. Bodoh! Lihat saja. Ya walaupun tetap saja anjing mempunyai otak, namun juga tetaplah binatang hanyalah seekor binatang, tak punya akal dan hanya mempunyai nafsu. Sama sepertinya. Aku pikir namanya seharusnya binatang! Bukannya bintang! Ah! Sudahlah nanti aku akan menceritakan padamu jika ia kembali menyapa. Semoga saja tidak. Tapi aku tak tau, hanya lihat saja. Aku cukup penasaran apakah ia masih menganggapku seorang teman atau bukan. Asal kau tau dulu ia berkata bahwa ia mencintaiku. Sekarang aku hanya menertawakannya saja. Anggap saja itu hanyalah lagu selamat tidur agar kau tak mimpi buruk. Aku begitu peduli padanya, si binatang itu, sesungguhnya. Bintang. Namun itu hanyalah salah satu kebodohan di antara kebodohan lainnya. Baiklah, cukup sampai disini dulu. Aku punya tugas di malam hari yang lebih penting dibanding menceritakan kisah sedih ini padamu.
Sampai jumpa.
No comments:
Post a Comment