Dia tak akan melupakan
setiap kata yang telah dia ucapkan pada seseorang. Jika pun ia melupakannya,
maka mungkin orang tersebut tak berarti banyak untuknya, sadly, tentu saja itu adalah hal yang biasa, dan bukan dengan orang
yang sedang ia tulis disini saat ini.
Keputusan yang dapat
diambil dapat saja merupakan suatu keputusan yang baik atau bahkan sebaliknya,
hitam dan putih, kau tahu itu (ataukah kau punya argumen lain?). Tak ada suatu
tempat umum dimana pun yang tak berasap rokok, sudah tak mengherankan lagi, dan
di tempat tersebut dia memutuskan sesuatu yang bahkan dia sendiri ingin
mematahkan suatu pernyataan yang telah ia percayai sebelumnya. Ia tak dapat dengan
pasti menyebutkan bahwa yang ia lakukan merupakan suatu keputusan yang baik
atau sebaliknya. Kepalanya ingin dengan mudah menyebutkan kata itu dan
mempercayainya, namun entah terdapat suatu informasi, berasal dari bagian
kepala yang lain berkata bahwa itu bukanlah hal yang tepat untuk dipercayai,
setidaknya untuk saat ini.
Hal ini; pembicaraan
setiap orang dengan orang lain yang silih berganti memasuki ruang-ruang pada
bagian indera pendengarnya dengan tanpa memasuki tahapan proses penyaringan
informasi (dan memang tak perlu) terkadang memang sesuatu yang ia butuhkan.
Namun, interpretasi orang dapat menghasilkan suatu konklusi bahwa ia tak dapat
bersosialisasi. Ia dapat dengan mudah memberikan pembelaan dengan; beberapa
hari yang lalu saat ia menghabiskan sekian waktu dengan beberapa orang yang
cukup dekat dengannya, ia tak dapat menemukan suatu hal penting sehingga
membuatnya ingin membicarakan sesuatu atau setidaknya tak membuatnya ingin
cepat beralih dari tempat itu. Dan memang benar, kekhawatirannya pun mulai
bertambah, mengenai bagaimana cara dia untuk berhenti menilai seseorang
berdasar dari apa yang mereka bicarakan dan cara mereka berbicara. Mereka
membicarakan suatu hal –yang menurutnya tak penting dengan menggebu-gebu seakan
mereka membicarakan sidang sengketa hasil pilpres. Atau, entahlah ia tak lagi
mengingat obrolan malam itu. Iykwim.
Di
tengah kepulan asap sigaret, suatu pernyataan, yaitu : “Happiness is for animal; meaning is for humans”, kembali
mengganggunya. It means, we don’t look
for happiness, but a meaning. Dan kemudian mempertanyakan banyak hal,
seperti bagaimana bisa dapat mengikuti dan mempercayainya jika kau tak dapat
menemukan celah untuk mencuri cara agar tetap bertahan pada sekumpulan homo
hapiens cerdas yang akan menginjakmu jika kau tak mempunyai kuasa apapun
terhadap sesuatu. Atau mungkin saja memang begitulah artinya. (seek for answer?)
Berakhir
dengan hubungan pada paragraf utama mengenai sesuatu yang pasti tak akan ia
lupakan, memang benar, menulis apa yang ada di dalam kepala jauh lebih mudah
dibandingkan dengan menulis sebuah proposal, meskipun mengungkapkannya tak
semudah menuliskannya.__
No comments:
Post a Comment