Thursday, March 11, 2021

Memory (no. 1)

Dia tak akan melupakan setiap kata yang telah dia ucapkan pada seseorang. Jika pun ia melupakannya, maka mungkin orang tersebut tak berarti banyak untuknya, sadly, tentu saja itu adalah hal yang biasa, dan bukan dengan orang yang sedang ia tulis disini saat ini.

Keputusan yang dapat diambil dapat saja merupakan suatu keputusan yang baik atau bahkan sebaliknya, hitam dan putih, kau tahu itu (ataukah kau punya argumen lain?). Tak ada suatu tempat umum dimana pun yang tak berasap rokok, sudah tak mengherankan lagi, dan di tempat tersebut dia memutuskan sesuatu yang bahkan dia sendiri ingin mematahkan suatu pernyataan yang telah ia percayai sebelumnya. Ia tak dapat dengan pasti menyebutkan bahwa yang ia lakukan merupakan suatu keputusan yang baik atau sebaliknya. Kepalanya ingin dengan mudah menyebutkan kata itu dan mempercayainya, namun entah terdapat suatu informasi, berasal dari bagian kepala yang lain berkata bahwa itu bukanlah hal yang tepat untuk dipercayai, setidaknya untuk saat ini.

Hal ini; pembicaraan setiap orang dengan orang lain yang silih berganti memasuki ruang-ruang pada bagian indera pendengarnya dengan tanpa memasuki tahapan proses penyaringan informasi (dan memang tak perlu) terkadang memang sesuatu yang ia butuhkan. Namun, interpretasi orang dapat menghasilkan suatu konklusi bahwa ia tak dapat bersosialisasi. Ia dapat dengan mudah memberikan pembelaan dengan; beberapa hari yang lalu saat ia menghabiskan sekian waktu dengan beberapa orang yang cukup dekat dengannya, ia tak dapat menemukan suatu hal penting sehingga membuatnya ingin membicarakan sesuatu atau setidaknya tak membuatnya ingin cepat beralih dari tempat itu. Dan memang benar, kekhawatirannya pun mulai bertambah, mengenai bagaimana cara dia untuk berhenti menilai seseorang berdasar dari apa yang mereka bicarakan dan cara mereka berbicara. Mereka membicarakan suatu hal –yang menurutnya tak penting dengan menggebu-gebu seakan mereka membicarakan sidang sengketa hasil pilpres. Atau, entahlah ia tak lagi mengingat obrolan malam itu. Iykwim.

            Di tengah kepulan asap sigaret, suatu pernyataan, yaitu : “Happiness is for animal; meaning is for humans”, kembali mengganggunya. It means, we don’t look for happiness, but a meaning. Dan kemudian mempertanyakan banyak hal, seperti bagaimana bisa dapat mengikuti dan mempercayainya jika kau tak dapat menemukan celah untuk mencuri cara agar tetap bertahan pada sekumpulan homo hapiens cerdas yang akan menginjakmu jika kau tak mempunyai kuasa apapun terhadap sesuatu. Atau mungkin saja memang begitulah artinya. (seek for answer?)

            Berakhir dengan hubungan pada paragraf utama mengenai sesuatu yang pasti tak akan ia lupakan, memang benar, menulis apa yang ada di dalam kepala jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis sebuah proposal, meskipun mengungkapkannya tak semudah menuliskannya.__

 

No comments:

Post a Comment