Tuesday, November 18, 2014

Hari Senin

Masih hari Senin. Bukan, namun sudah hari Senin. Entah Senin keberapa dalam tahun ini. Siapa pula yang sanggup menghitungnya di hidup yang serba ruwet ini? Peduli dengan hari saja tidak, seakan hari tidak akan pernah ada habisnya. Senin sampai Minggu berulang terus tiada akhir. Oh! Kata siapa? Salah besar. Barangkali besok kau mati. Maka berakhirlah. Sesederhana itu.

Sudah hari Senin yang entah Senin keberapa dalam tahun ini, selama 21 tahun plus beberapa bulan yang berisi 30 atau 31 hari lamanya, kau habiskan tetap dengan masalah yang hampir tak pernah berubah. Barangkali sudah sedikit termodifikasi, namun tetap tak berada jauh dari titik yang sama, tak ada perubahan, konstan, rata, dan pendek. Suatu saat kau berada di bawah sana dengan setumpuk keruwetan yang dengan sedemikian rupa kau simpul sesederhana mungkin dan setelah itu begitu saja terlupakan. Seakan tak ingin terjebak dengan keruwetan yang sama, maka kau mulai menyimpul hal baru dalam memori yang lebih terlihat seperti bayangan dan tak pernah akan menjadi nyata, kau yang sendiri tau hal itu. Aku dan kau sama-sama tak pernah mempelajari ilmu tentang sifat manusia, entah mengapa kau sering menanyakannya diam-diam suatu waktu. Aku berasumsi bahwa sebenarnya kau hanya mempertanyakan tentang dirimu sendiri. Namun aku juga sedikit ragu karena kau bukan seperti orang-orang di luar sana. Entah kau seperti apa. Aku sendiri juga tak pernah merasa yakin. Satu hal yang aku yakini adalah kau pasti juga merasakan hal yang sama, seperti yang tadi aku ungkapkan.

Menurutku kau adalah makhluk paling konvensional yang pernah aku tau. Tak pernah ada perubahan, maju ke depan namun terbelakang di kelompok, juga penakut yang rasa takutnya sama besar dengan keberanian yang kau miliki. Barangkali kau memilih kelompok yang salah, apapun bisa saja terjadi kan. Laiknya nasi yang telah menjadi bubur, memang usaha terbesar yang dapat dilakukan satu-satunya hanya fokus pada satu titik. Namun fokus adalah salah satu kelemahanmu. Lalu kau akan menanyakan, “Lalu selanjutnya apa?”

1 comment: